Pernah nggak sih kamu merasa kok hidup gini-gini aja, atau malah banyak banget kurangnya? Padahal kalau dipikir-pikir, ada aja lho hal baik yang terjadi, cuma kadang mata kita terlalu fokus ke yang nggak ada. Iya kan? Kita sering banget lho, terjebak dalam lingkaran membandingkan diri sama orang lain, atau terus-terusan mengeluh soal macet, kerjaan numpuk, atau kuota internet yang tiba-tiba habis. Jujur aja deh!
Nah, padahal, ada satu "obat" mujarab yang sering kita lupakan: bersyukur. Kedengarannya klise ya? Tapi tunggu dulu, ini bukan soal ceramah kok. Ini lebih tentang gimana sedikit mengubah lensa kacamata kita dalam melihat dunia.
Aku mau cerita sedikit tentang Rina, bukan nama sebenarnya lho ya, cerita ini fiktif hanya untuk ilustrasi biar kamu kebayang.
Rina ini tipikal anak muda milenial yang aktif, kerjanya di kantor swasta di Jakarta. Sekilas sih hidupnya baik-baik aja, tapi aslinya, Rina sering banget ngeluh. Tiap sore pulang kerja, dia udah mumet duluan mikirin macet. Sampai rumah, scroll media sosial, liat temen-temennya liburan ke Eropa, beli tas branded, atau pamer gadget terbaru, langsung deh dia ngerasa hidupnya kok gitu-gitu aja, kurang liburan, kurang duit, kurang segalanya. Pokoknya, banyak banget deh "kurangnya" di mata Rina.
Suatu malam, pas lagi di puncak mumetnya gara-gara kerjaan nggak kelar-kelar dan sinyal Wi-Fi di kosan bapuk, Rina curhat panjang lebar sama neneknya lewat telepon. Neneknya cuma dengerin aja, sabar banget. Setelah Rina selesai ngerocos semua keluhannya, neneknya cuma bilang gini, "Nak, coba deh sekarang kamu sebutin tiga hal kecil aja yang bikin kamu senyum hari ini, apa?"
Rina diam. Mikir keras. Tiga hal kecil? Apa ya? Awalnya susah banget. Tapi akhirnya dia inget: "Oh iya, tadi pagi ada kucing lucu numpang tidur di pot bunga depan kosan, dia ngeliatin aku terus meong-meong manja." Terus, "Kopi di kantor hari ini rasanya pas banget, mood jadi agak naik." Dan yang terakhir, "Mbak-mbak kasir di minimarket tadi senyumnya ramah banget pas aku bayar."
Sederhana banget kan? Neneknya cuma ketawa kecil dan bilang, "Nah, itu dia. Kalau kamu terus nyari yang gede-gede, yang kecil-kecil itu suka nggak kelihatan. Coba aja setiap hari, sebelum tidur, kamu inget-inget tiga hal kecil yang bikin kamu bersyukur hari ini."
Sejak malam itu, Rina coba praktekin saran neneknya. Awalnya aneh, maksa banget. Tapi lama-lama, dia jadi lebih peka. Dia mulai menyadari betapa banyak "hadiah" kecil di sekelilingnya: tetangga yang nyapa ramah, driver ojol yang bawain orderan dengan cepat, atau bahkan cuma mendung sore yang bikin adem setelah panas terik seharian.
Perlahan tapi pasti, Rina ngerasa ada yang berubah di dirinya. Dia jadi nggak gampang ngeluh, nggak terlalu sering banding-bandingin diri sama orang lain. Bukan berarti masalah hidupnya hilang ya, macet masih ada, kerjaan tetap numpuk. Tapi cara pandangnya aja yang beda. Dia jadi lebih tenang, lebih bisa menghargai momen yang ada, dan ironisnya, dia merasa lebih bahagia.
Jadi, teman-teman, cerita Rina ini ngingetin kita semua. Bersyukur itu bukan berarti kita pasrah sama keadaan, tapi justru membuka mata kita buat melihat sisi terang di tengah kegelapan. Itu adalah kekuatan super yang bikin hati kita lebih lapang, pikiran lebih jernih, dan hidup terasa jauh lebih berwarna.
Komentar
Posting Komentar